THE MIRROR NEVER LIES : Film di Wakatobi,,


Berada di satu tempat bersama wanita yang duduk sebagai Marketing and Communication Director WWF Indonesia, Devy Suradji, tentunya tidak kami sia-siakan untuk mengajukan beberapa pertanyaan dalam hal keterlibatan WWF dalam film The Mirror Never Lies, sebuah film garapan Kamila Andini (Dini), putri dari Garin Nugroho, yang akan mengangkat kisah suku Bajo beserta keindahan alam bawah laut Wakatobi.

Ya, beberapa waktu lalu 21cineplex.com hadir dalam proses syuting film garapan Kamil Andini yang berlangsung di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Wangi-wangi, ditempat itulah selain bertemu dengan para pemeran seperti Reza Rahadian dan Atiqah Hasiholan beserta para pendukung film lainnya, kami bertemu dengan Devy Suradji yang turut hadir untuk melihat langsung proses syuting tersebut. Dan inilah hasil wawancara kami.
Bagaimana awal keterlibatan WWF dalam film The Mirror Never Lies?
“Awalnya Pak Hugua sebagai Bupati Wakatobi sedang bekerjasama dengan WWF untuk konservasi wilayah WWF, lalu Nadine di sini datang bikin film dokumenter. Tim WWF bilang ke saya mau bikin film, saya minta presentasi, tadi awalnya tentang tourism, tapi saya bilang coba digali lagi dan saya bilang dari awal kalau kita maunya bikin bukan dokumenter.”

Jadi posisi WWF sebagai apa?
“WWF tadinya hanya bantu untuk risetnya saja, tapi saya bilang kita berpartisipasi namun ada syaratnya, bikin filmnya bukan dokumenter. Yang kedua WWF tidak sponsor tapi kita co-produser, dengan jadi begitu kita punya konten subtstansinya, karena ini resikonya tinggi kan, ini bukan film dokumenter, takutnya ketika dilihat publik interpretasinya salah, makanya kita mau gawangi semuanya, seperti dari naskahnya sendiri.”

Kenapa akhirnya memutuskan untuk memilih Dini yang menggarap film ini?
“Tadinya mau Garin yang garap, saya bilang, ‘I love you, I love your idealistic’ tapi menurut saya mungkin dengan Dini akan lebih fresh dan Garin setuju dengan itu.”

Ada target khusus untuk film ini?
“Kita nggak mau setengah-setengah, kalau bisa menang Cannes atau nggak masuk nominasi-lah, karena kita mau film ini juga dikonsumsi dunia. Kita juga mau menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya tentang kekerasan, tapi di sini juga banyak tentang kehidupan.”

Berarti pihak mana saja yang terkait untuk proses film ini?
“Disini ada pihak SET Film, WWF dan Bupati. Rencananya hasil film ini akan dikembalikan konservasi di Wakatobi. Dan film ini akan menjadi film layar lebar pertama untuk WWF, Dini, dan Wakatobi.”

Kenapa WWF memilih untuk mengangkat laut terlebih dahulu dibandingkan dengan lainnya?
“WWF tidak memprioritaskan mana yang lebih dulu, karena kita lihat dari story-nya yang kuat dan dari presentasi mereka yang meyakinkan serta message yang disampaikannya kuat banget. Apalagi di sini merupakan lokasi Coral Triangle, 6 dari 7 spesies penyu ada di Wakatobi ini, dan banyak spesies baru yang lahir di sini.”

Tapi apakah sebelumnya pernah ada ide untuk membuat film layar lebar?
“Sebenarnya sih sudah ada ide film tentang hutan, tapi yang paling kuat dan siap adalah film ini, karena sudah riset dan segala macamnya.”

Apakah film ini nantinya juga akan dijadikan bahan kampanye untuk WWF?
“Ya, kebetulan saya pegang Asia Pasifik juga jadi di bulan April ini akan ada Triangle Champagne, peserta negaranya adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Solomon Island, Papua Nugini, dan Timor Leste. Lalu yang berminat ikut adalah Jepang, Australia, Hongkong, dan Cina. Jadi tugas saya nanti adalah menggunakan film ini untuk membuat orang menengok Wakatobi.”

Jadi apa rencana untuk film layar lebar selanjutnya?
“Mungkin saja nanti tentang orang utan, atau tentang Papua. Yang pasti untuk film keduanya nanti jelas bukan laut lagi, lebih banyak ke hutan. Tapi sebenarnya dulu pernah sempat mau bikin film tentang gajah, tapi tidak jadi. Kembali lagi, ketika kita punya ide itu, kreatifnya juga harus ketemu dan yang berat lagi adalah mencari produser yang mau nanti hasil keuntungan filmnya buat konservasi.”

Yang terakhir, harapan untuk film ini?
“Yang diharapkan pastinya orang menonton film ini dan orang bisa merasakan Wakatobi adalah tempat yang indah dengan kaya budaya di tengah-tengah Coral Triangle, jadi apa yang bisa kamu bantu untuk ini lebih baik lagi.” (eM_Yu)


Posted on 20 April 2011, in Kota Bau-Bau. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wakatobi memang tiada duanya bu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: