Wakatobi, the beautiful place that I want go there


Kali ini, saya akan memposting tentang sebuah daerah di Sulawesi Tenggara yaitu Wakatobi.

Sebuah daerah yang cukup dekat dengan kota kelahiran saya, Kota Bau-Bau,,namun saya belum pernah kesana,,hehe,,

(maklum, lagi kuliah,,),,Maaf kalau fotonya hanya sedikit,, karena sy blm pernah ksana,,ntar dh lw dh ksana, dibanyakin fotonya,,hehe

Saya sangat ingin ke sana, namun waktu yang tidak memungkinkan,,,mungkin suatu saat,,haha,,amin,,

Nah, langsung saja, see the beautiful place that I want go there,,!!

Peta Wakatobi

WAKATOBI

Wakatobi merupakan singkatan dari 4 pulau terbesar yang ada di kabupaten yang baru 2 tahun mengalami pemekaran yaitu, wangi-wangi, kaledupa, tomia dan binongko.

Surga nyata bawah laut merupakan julukan yang diberikan kepada kawasan Taman Nasional Wakatobi. Berada di pusat segitiga karang dunia (The heart of coral triangle centre), Wakatobi memiliki kekayaan  sumber daya laut yang melimpah dan eksotik. Air laut yang sangat jernih, terumbu karang yang mempesona dan dihuni oleh beragam hewan laut seperti ikan paus, ikan duyung, ikan lumba-lumba, ikan napoleon dan berbagai jenis ikan hias lainnya serta berbagai jenis tumbuhan lautnya layaknya sebuah taman di lautan. Selain itu, pantainya yang elok dengan dihiasi pasir putih membentang menyempurnakan keindahan kepulauan wakatobi.  Kecantikan Wakatobi inilah yang selalu memberi kesan tak terlupakan bagi siapa saja yang pernah mengunjunginya. Dan sudah banyak yang mengakui bahwa Taman Nasional Wakatobi merupakan taman laut terindah dan terumbu karang terbaik di dunia.

 

I. Sejarah Taman Nasional Wakatobi Kepulauan Wakatobi terletak di pertemuan Laut Banda dan Laut Flores. Wakatobi merupakan kependekan dari nama empat pulau besar yang ada di kawasan tersebut, yaitu Pulau  Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau  Tomia dan Pulau Binongko. Luas masing-masing pulau adalah Pulau Wangi-wangi (156,5 km2), Pulau Kaledupa (64,8 km2 ,(Pulau Tomia (52,4 km2), dan Pulau Binongko (98,7 km2). Semula gugusan pulau ini dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi, karena sejak dahulu penduduk di kepulauan ini dikenal sebagai pengrajin atau pandai besi yang memasok kebutuhan rumah tangga dan alat-alat perang bagi kerajaan Buton dan sekitarnya.  Kekayaan sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya dengan panorama bawah laut yang menakjubkan menjadikan kepulauan Wakatobi dijuluki surga bawah laut di antara pusat segitiga karang dunia (The heart of coral triangle centre) yaitu wilayah yang memiliki keanekaragaman terumbu karang dan keanekaragaman hayati lainnya (termasuk ikan) tertinggi di dunia, yang meliputi Philipina, Indonesia sampai kepulauan Solomon. Kekayaan keanekaragaman hayati laut menjadikan Kepulauan Wakatobi ditunjuk sebagai  Taman Nasional Laut berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 393/KptsVI/1996 tanggal 30 Juli 1996 dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No 7651/Kpts/II/2002 tanggal 19 Agustus 2002 dengan luasan 1.390.000 Ha.

Tujuan penetapan taman nasional ini adalah terjaminnya sistem penyangga kehidupan untuk pelestarian keanekaragaman hayati  (bidoversity conservation) sebagai perwakilan ekosistem wilayah ekologi perairan laut Banda-Flores  (Banda Flores Marine Eco-region), INFORMASI  TAMAN NASIONAL WAKATOBI Gambar : Keindahan bawah laut Wakatobi (sumber : Hermawan Wong, 2007) 2menjamin terwujudnya pembangunan ekonomi daerah secara berkelanjutan  (sustainable development) terutama dari sektor perikanan dan pariwisata, serta menjamin tersedianya sumber mata pencaharian yang berkelanjutan (sustainable livelihood) bagi masyarakat setempat.  Pembentukan pulau-pulau di kepulauan Wakatobi akibat adanya proses geologi berupa sesar geser, sesar naik maupun sesar turun dan lipatan yang tidak dapat dipisahkan dari bekerjanya gaya tektonik yang berlangsung sejak jaman dulu hingga sekarang. Secara keseluruhan kepulauan ini terdiri dari 39 pulau, 3 gosong dan 5 atol. Dari proses pembentukannya, atol yang  berada di sekitar kepulauan Wakatobi berbeda dengan atol daerah lain. Atol yang berada di kepulauan ini terbentuk oleh adanya penenggelaman dari lempeng dasar. Terbentuknya atol dimulai dari adanya kemunculan beberapa pulau yang kemudian diikuti oleh pertumbuhan karang yang mengelilingi pulau.  Terumbu karang yang ada di sekeliling pulau terus tumbuh ke atas sehingga terbentuk atol seperti beberapa atol yang terlihat sekarang, antara lain Atol Kaledupa, Atol Kapota, Atol Tomia.  Berdasarkan hasil citra satelit, diketahui bahwa luas terumbu karang di kepulauan Wakatobi adalah 8.816,169 hektar.

Di kompleks P. Wangi-wangi dan sekitarnya (P. Kapota, P. Suma, P. Kamponaone) lebar terumbu mencapai 120 meter (jarak terpendek) dan 2,8 kilometer (jarak terjauh). Untuk P. Kaledupa dan P. Hoga, lebar terpendek terumbu adalah 60 meter dan terjauh 5,2 kilometer. Pada P. Tomia, rataan terumbunya mencapai 1,2 kilometer untuk jarak terjauh dan 130 meter untuk jarak terdekat. Kompleks atol Kaledupa mempunyai lebar terumbu 4,5 kilometer pada daerah tersempit dan 14,6 kilometer pada daerah terlebar. Panjang atol Kaledupa sekitar 48 kilometer. Atol Kaledupa merupakan atol terbesar yang ada di kawasan Wakatobi. Kepulauan Wakatobi secara administratif, awalnya termasuk dalam Kabupaten Buton, Propinsi Sulawesi Tenggara, namun sejak tahun 2004 terbentuk Kabupaten Wakatobi yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Buton  dengan letak dan luas yang sama dengan Taman Nasional Wakatobi (TNW). Wilayah Kabupaten Wakatobi didominasi oleh perairan yang luasnya mencapai 55.113 km2 dan garis pantai ± 251,96 km atau mencapai 98,5% dari keseluruhan total wilayah. Selain itu juga sumberdaya perairannya memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga pengelolaan kepulauan Wakatobi perlu mempertimbangkan kaidah-kaidah konservasi.

Untuk menuju Kepulauan Wakatobi dapat ditempuh lewat beberapa alternatif perjalanan dari kendari Ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara, yaitu:

1). Kendari ke kota Wanci, Ibukota Kabupaten Wakatobi dengan kapal kayu yang berangkat 3 kali seminggu dari pelabuhan Kendari dengan waktu tempuh ± 10 jam

2). Kendari ke Bau-Bau (Buton) dengan kapal cepat regular setiap hari dua kali pemberangkatan deng

an waktu tempuh ± 5 jam kemudian dilanjutkan dengan naik kapal kayu ke Wanci dengan waktu tempuh ± 8 jam. Juga dapat ditempuh dengan kombinasi kendaraan darat dan laut  dari bau-Bau ke Lasalimu naik kendaraan roda empat selama dua jam, lalu naik kapal cepat lasalimu-Wanci selama (± 2 jam), Juga dapat  Langsung Ke pulau Kala dupa dengan Kapal kayu Bau-bau – Kaladupa dengan perjalanan laut selama ±10 (Biasanya Kapal Kayu bau-bau- wanci dan bau-bau-kaladupa berangkat setiap hari jam 9 Malam)

3). Perjalanan dari Jakarta atau Surabaya menuju Kepulauan Wakatobi juga bisa menggunakan kapal laut PELNI yang singgah di Kota Bau-Bau dengan intensitas ± 3 atau 4 kali seminggu.

4). Dan sekarang Sudah Dapat ditempuh Dengan menggunakan Pesawat Udara dari kendari Ke Wanci Dengan Pemberangkatan 3 kali seminggu, Juga bisa lewat Bau-Bau ke Wanci

Sumber http://thecelebesadventure.wordpress.com/2010/03/23/wakatobi/


Posted on 25 Februari 2011, in Kota Bau-Bau. Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. hari ini lagi semangat mengomentari blog teman-teman hehehe coba lihat blog saya juga ya

  2. Wah udah pernah koment rupanya hahaha gapapalah sekalian blogwalking

  3. kalau pelabuhan peti kemas sudah beroperasikah dsana ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: