Goraana Oputa, Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Kota Bau-Bau


PERMULAAN Goraana Oputa, ritual maludhu wolio atau maulid memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan Walikota Baubau Amirul Tamim bersama jajaran, di Rujab walikota, dilaksanakan pukul 24.00 sampai 02.00 Wita. Acara tersebut dihadiri ratusan undangan dari sejumlah pemangku kepentingan. Bagaimana prosesinya?

Oleh : Asrin

Goraana Oputa

 

goraana oputa

SEJAK agama Islam masuk di negeri Butuuni (Buton) pada 1542 M atau 948 H yang diterima langsung Lakilaponto selaku Raja Buton ke-6, kemudian menjadi sultan pertama bergelar Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis. Saat itu, ajaran Islam masih pada tahap pengenalan kepada seluruh aparat Kesultanan dan beberapa lapisan masyarakat.

Dalam penyebaran Islam, berbagai cara digunakan antara lain melalui perkawinan antara penyebar dengan masyarakat setempat, seni budaya -memadukan budaya Islam dengan tradisi masyarakat tradisional-, dan pendidikan -mengajarkan baca Alquran dengan bahasa dan dialek setempat-. Setelah Islam tersebar dan berkembang hampir diseluruh wilayah Kesultanan, selama kurang lebih 50 tahun lamanya, serta terjadi beberapa pergantian kepemimpinan di Kesultanan Butuni, saat itu Sultan Buton ke-4, La Elangi Dayanu Ikhsanuddin menetapkan Islam sebagai fondasi dasar diberbagai sendi kehidupan sosial politik. Dia menetapkan Undang Undang Kesultanan yaitu Murtabat Tujuh sebagai pedoman dalam menjalankan roda pemerintahan negeri dan Istiadatul Azali sebagai acuan tata hubungan kehidupan sosial kemasyarakatan.

“Sultan La Elangi Dayanu Ikhsanuddin, bukan saja pemimpin negeri, tetapi juga sebagai pemimpin Islam yang banyak mendapat bantuan dan petunjuk teknis di bidang keagamaan dari Syarif Muhammad seorang filsuf berkebangsaan Arab yang diutus penguasa Mekah sebagai bagian dari penciptaan hubungan antara Butuni dengan pusat Islam se-dunia,” urai Kabid Nilai Budaya, Kesenian, Sejarah dan Purbakala, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Baubau, Ali Arham.

“Untuk memantapkan spirit Islam di Kesultanan Butuni, maka Syarif Muhamad juga memperkenalkan Kitab Maulud Syaraful Anami karya besar Sayed Ja’far yang di dalamnya meriwayatkan tentang kehidupan Muhammad dimasa kecil, menjadi rasul hingga akhir hayat beliau. Karena Muhammad SAW sebagai nabi sekaligus rasul yang telah berjasa membawa cahaya terang benderang di seluruh jagad raya dengan ajarannya yang mengedepankan hubungan manusia dengan yang Maha Pencipta dan hubungan antar sesama manusia juga merupakan suri tauladan yang patut dicontoh. Tidak terkecuali di negeri Kesultanan Butuni sebagai salah satu benteng dan pusat penyebaran Islam di Kawasan Timur Nusantara di abad 17 yang silam,” sambungnya.

Sejak La Elangi Dayanu Ikhsanuddin menjadi Sultan ke-4, sekaligus sebagai pemimpin umat, maka untuk pertama kalinya diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam bentuk Maludhu Wolio Goraana Oputa. Ritual tersebut merupakan akulturasi tradisi budaya Butuni dengan Islam yang mengandung arti tentang permohonan Paduka Sri Sultan Butuni kepada Allah SWT.
Goraana Oputa berlangsung mulai pukul 24.00 tengah malam 12 Rabiul Awal diawali pembacaan riwayat Nabi Besar Muhammad SAW oleh empat Moji (perangkat Masjid Agung Keraton Wolio secara bergiliran) sebagai perwakilan pemerintah Kesultanan di bidang keagamaan.

Ritual tersebut merupakan gambaran tentang tanggung jawab seorang pemimpin (Sultan pada masanya, atau walikota sebagai pimpinan daerah di era otonomi) terhadap rakyatnya. Demikian pula seluruh masyarakat ikut pula bermunajat dan berdoa untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa, agar negerinya diberi keselamatan, keamanan, jauh dari segala mara bahaya. Peristiwa Goraana Oputa juga merupakan momentum yang sangat penting sebagai salah satu media untuk mengingatkan kembali peran dan jasa besar Nabi Muhammad yang diimplementasikan melalui penguasa negeri sekaligus bertanggungjawab penuh kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya agar masyarakat dapat bekerja keras, menata masa depan sesuai norma-norma keislaman yang telah dianutnya, bahkan nilai-nilai keislaman tersebut telah tercermin dalam falsafah perjuangan hidup masyarakat Butuni yaitu: Yinda yindamo arataa somanamo karo (rela berkorban harta demi keselamatan diri), Yinda yindamo karo somanamo lipu (rela berkorban diri demi keselamatan negeri), Yinda yindamo lipu somanamo syara (rela berkorban negeri demi keselamatan pemerintahan), dan Yinda yindamo syara somanamo agama (rela berkorban pemerintahan demi keselamatan agama).

Goraana Oputa selain sebagai ritual, juga merupakan pengumuman atau penyampaian kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjalankan tradisi maludhu secara terus menerus. Karena itu sebagai masyarakat yang agamis dan berbudaya, maka mulai pagi hari pukul 06.00 dimulailah Maluduna Miabari (maulid seluruh masyarakat) secara bergilir. Ini dilaksanakan dari rumah ke rumah sampai pada akhir bulan Rabiul Awal ditandai dengan Maluduana Hukumu (Syara Masjid Keraton Butuni) di kediaman Lakina Agama (Kadhi masjid Keraton) sebagai penutup dari keseluruhan ritual maulid.

Berkenaan dengan pelaksanaan Maulid Goraana Oputa juga bermaksud agar setiap umat yang beragama untuk tetap saling mengingatkan dalam hal kebaikan, yang merupakan wujud rasa cinta sebagai manivestasi kecintaan terhadap negeri ini, sekaligus bertekad menjadikan Baubau sebagai Kota Budaya yang produktif dan nyaman, melalui optimalisasi sumber daya lokal secara profesional dan amanah menuju masyarakat sejahtera, bermartabat dan religi yang telah tertuang dalam syara pataanguna, sebagai pedoman dasar undang undang Kesultanan Butuni. Terdiri dari, Pomae maeka (saling takut antar sesama manusia), Pomaa maasiaka (saling sayang antar sesama manusia), Popia piara (saling memelihara antar sesama manusia), Poangka angkataka (saling menghargai antar sesama manusia) sebagai pendorong dan motivasi etos kerja terhadap aparat pemerintah, bersama sama rakyat dalam menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur.(***)

http://www.radarbuton.com/index.php?act=news&nid=26549

Posted on 2 Februari 2011, in Kota Bau-Bau. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: