Wisata Sejarah di Kota Bau-Bau


Benteng (Kraton ) Wolio Buton dibangun tahun 1634-1645 oleh Sultan Buton ke-VI, La Buke, yang memiliki panjang 2.740 m, tebal 1-2 m, tinggi 2-8 m, memiliki 12 pintu gerbang (lawa)(rakia, lanto, labunta, kampebuni, waborobo, dete, kalau, wajo/bariya, burukene/tanailandu, melai/baau, lantongau, gundu-gundu), dan 16 bastion/empalsemen meriam (baluara) (gama, litao, barangkatopa, wandailolo, baluwu, dete, kalau, godona oba, wajo/bariya, tanailandu, melai/baau, godona batu, lantongau, gundu-gundu, siompu, rakia) dengan kontruksi bangunan yang terbuat dari pasir dan batu kapur serta putih telur sebagai perekatnya, terbentang melingkar membentuk huruf ‘dal’, rekor MURI sebagai Benteng terbesar dan terluas di dunia 22,8 Ha. Peninggalan sejarah utuh tentang kejayaan Kesultanan Buton di masa silam,

Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena) terletak di sebelah utara dalam Benteng Keraton, dibangun pada abad XVII (1712M) Pada masa Sultan Sakiyuddin Durul Alam atau La Ngkariyiri, berukuran 20,6 x 19,40 m dan bersusun 3, filosofi unik masjid ini menggambarkan simbol keseluruhan yang ada dalam tubuh manusia yang kokoh, menggunakan 33 pasak dari macam-macam jenis kayu, didalamnya terdapat bedug tua berukuran 1,5 m dan berdiameter 50 cm.

Kasulana Tombi (Tiang Bendera) yang digunakan untuk mengibarkan bendera Kesultanan, bendera Longa-Longa, terletak di sebelah kiri Masjid Agung Keraton, terbuat dari kayu jati dengan tinggi 21m, Didirikan tahun 1712 bersamaan dengan Masjid Agung Keraton,

Rumah adat Wolio (Malige/Kamali) adalah bangunan bersusun 3 yang berfungsi sebagai rumah jabatan Sultan di Buton, dengan kontruksi rumah panggung dari kayu jati dan wola (beti) dan semua pasaknya terbuat dari kayu. Kamali di kawasan Benteng tersisa 2 buah yaitu Kamali Kara dan Kamali Bata, ketika seseorang menjadi Sultan maka otomatis rumah orang tersebut berubah menjadi Kamali.

 

Makam Sultan Murhum

Makam Sultan Murhum terletak di areal dalam Benteng Keraton, Sultan Murhum atau Kaimuddin Khalifatul Hamis adalah raja ke-VI (raja terakhir) dan Sultan pertama. Murhum yang mempunya nama kecil Lakilaponto ini memerintah tahun 1538-1584, ia mengalahkan La Bolontio bajak laut bermata satu dari kepulauan Tobelo di Maluku Utara, Murhum juga di kenal dengan nama “Halu Oleo” artinya “8 hari” (bahasa Muna) karena menyelesaikan perang saudara antara Konawe dan Mekongga dalam waktu 8 hari.

 

Batu Popaua

Batu Popaua, Batu pelantikan yang terletak di depan Masjid Agung, berbentuk batu ponu atau simbol kewanitaan, tempat Raja/Sultan dilantik oleh Dewan Mentri dengan cara memutarkan payung di atas kepalanya, batu ini dianggap suci dan keramat dan di percaya tempat pertama kalinya Raja Buton pertama Waa Kaa Kaa menginjakkan kakinya.

Batu Yigandangi, pada malam sebelum pelantikan Sultan/Raja dipukulkan gendang sehingga muncul mata air pada batu tersebut yang digunakan calon Sultan untuk mandi, menyerupai tugu batu, symbol kejantanan, oleh masyarakat setempat dianggap belum sampai ke tanah Buton jika belum menyentuh batu ini, dan yang mengunjunginya akan mendapat rahmat dan rezeki.

Jaraijo artinya kuda hijau, kuburan kuda kesayangan Sultan yang selalu memakai aksesoris serba hijau, namun versi lain dikatakan bahwa Jaraijo adalah makam Onderbevelhebber Steven Barentzoon seorang Belanda, pada tahun 1635, Dia dan 4 rekannya menghalangi pembangunan Benteng Keraton namun tidak merubah hubungan Belanda dengan Kesultanan Buton. Selain Batu Popaua, Batu Yigandangi, dan Jaraijo terdapat pula wisata situs lainya yaitu Batu Maali, Batu Poaro, dan Batu Manuru.

Masjid Kuba, kuba dalam bahasa Buton artinya kolam, kolam yang teletak di bagian depan Masjid ini berfungsi sebagai tempat mengambil air wudhu, didirikan pada masa Sultan Muhammad Idrus tahun 1826 M, terletak 1km dari Benteng Keraton, di dalamnya terdapat makam Sultan Buton ke-XXIX.

Samparaja ( jangkar ) terdapat di dalam kawasan Benteng, sebelumnya berada di luar Benteng Keraton, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, jangkar ini bersal dari kapal VOC yang karam di sekitar pulau Muna. Berawal pada tahun 1752, jangkar tersebut adalah milik VOC yang bernama Rusten Werk. Kapal tersebut tenggelam di peairan Pulau Buton. Pada penduduk setempat utamanya penduduk wilayah Keraton Kota Bau – Bau menjarah isi kapal tersebut dan mengambil salah satu isinya yang berupa JANGKAR dan saat ini jangkar tersebut menjadi salah satu benda bersejarah diwilayah Keraton Kota Bau – Bau letak jangkar tersebut berada didepan Masjid Agung Keraton bagian kiri.

Pusat Kebudayaan Wolio, museum yang awalnya merupakan Kamali dari Muhammad Falihi, Sultan Buton ke-38 (1938-1960), di tempat ini banyak terdapat benda-benda peninggalan Kesultanan Buton salah satunya mata uang kampua (alat tukar yang terbuat dari kain tenun Buton).

Liana Latoondu / Gua Arupalaka
Gua ini merupakan sebuah cerok kecil bentukan alam setinggi kurang lebih 1,5 m. gua ini pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian latoondu (arupalaka) seorang raja Bone yang cukup berpengaruh ditanah Bugis. Ia melarikan diri ke Buton tahun 1660 dan menetap untuk waktu yang tidak begitu lama. Kemudian kembali ke Sulawesi selatan memimpin perlawanan menghadapi Gowa.

Lawana Waborobo
Lawana dalam bahasa Indonesia artinya pintu sedangkan waborobo adalah nama sebuah perkampungan yang ada disekitar atau diwilayah keraton. Pada masa keraton itu dibangun dengan system kerja paksa maka warga sekampung waborobo mengambil bagian dalam pelaksanaan pembuatan pintu tersebut disebut dengan nama waborobo atau lawana waborobo dengan ukuran kurang lebih 2,20 x 1,50 m dengan bentuk yang indah. Seperti kita ketahui bahwa pintu itu adalah tempat, atau jalan keluar masuk untuk menuju dari ruang satu keruangan yang lain atau dari tempat satu menuju dari tempat yang satu menuju ketempat yang lain. Begitu halnya dengan pintu tersebut.

Baluarana Godona batu
Baluarana godona batu didirikan pada masa pemerintahan Sultan Malingkuna pada tahun 1595 daerah pulau Buton mengalami kekeringan selama masa pemerintahannya dari yang tidak dapat diselesaikannya. Tidak lama kemudian Sultan Malingkuna digantikan jabatannya oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin pada tahun 1635 – 1645 pekerjaan berlanjut selama 10 tahun. Semua warga Buton bekerja bakti untuk benteng tersebut. Jika pekerjaan tidak terselesaikan maka entah apa yang akan terjadi dipulau Buton ini. Kemudian hadir seorang perempuan yang kaya bernama Wa Ode Bau, dia menyumbangkan perhiasan satu tudung saji diserahkan kepada kerajaan Buton untuk terlaksananya pekerjaan benteng itu akhirnya diselesaikan pada tahun 1647.

 

Sumber : http://safrinsalera.blogspot.com/ dan http://kabarakatinatanawolio.blogspot.com/

Posted on 26 Januari 2011, in Kota Bau-Bau. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. amazing ,nice posting,follow back

  2. excellent dahhhhhhhhhh,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: